Pramuka Bukan Hanya Tentang Tongkat Dan Tali

Diposkan oleh

Menjelang hari pramuka 14 Agustus tahun ini, saya ingin berbagi cerita tentang pramuka yang menjadi salah satu bab indah dalam kehidupan saya. Indah karena ia dapat diceritakan berulang-ulang. Indah karena ia berpengaruh dalam hidup. Walaupun saat ini sudah tidak aktif lagi mengenakan uniform, namun masih tersirat dalam hati jika suatu waktu akan ada kesempatan untuk berhias kacu lagi .

Sebagian besar pembaca mungkin masih aktif dalam kegiatan-kegiatan rutin, sementara lain sudah menjadi pengamat dari jauh seperti saya saat ini. Dimanapun posisi kita saya ini, saya percaya cinta itu masih bersemayam didalam dada.

Awal Mengenal Pramuka

Saya mengenal kegiatan pramuka sejak duduk di kelas 1 sekolah dasar, walaupun tidak ikut aktif dalam kegiatan, hanya sekedar menjadi pengunjung di perkemahan bersama ibu yang kebetulan adalah guru. Yang masih teringat saat ini adalah kegiatan perkemahan menjelang hari pramuka seperti saat ini. Dilaksanakan oleh kwartir cabang selama 3 hari yang ditutup dengan upacara 14 Agustus.

Selama perkemahan, beberapa gugus depan unggulan yang sering menjadi juara dalam perlombaan akan memamerkan kemampuan baris berbaris, penggunaan isyarat dan tentu saja keterampilan pionering yang mereka miliki. Penampilan salah satu gugus depan favorit yang membuat saya kemudian memilih melanjutkan sekolah ditempat tersebut. Dikemudian hari juga memiliki kesempatan tampil diajang yang sama sebagai pimpinan regu.

Satu hal yang dapat dijadikan pelajaran hari ini adalah lelah dibawah terik matahari tak menyurutkan langkah dalam beraktifitas saat itu. Dingin yang menusuk dimalam hari tak jadi hambatan menikmati indahnya taburan bintang. Ditengah kehangatan api unggun yang menyala bersama semangat peserta.

Silahkan membayangkan kondisi masing-masing, Siapa yang tidak mandi selama perkemahan?Silahkan tersenyum

Tidak ada keluh kesah diantara kami yang saat itu masih berusia antara 10 s.d 12 tahun. Tidak ada derai air mata mencari kehadiran orang tua masing-masing. Yang ada hanya pembina dan rekan satu regu. Pelajaran tentang perjuangan menghadapi tantangan telah hadir diusia yang masih sangat belia. Sesuatu yang saat ini telah langka dirasakan anak-anak khususnya di perkotaan.

Lomba Tingkat Yang Melelahkan

Salah satu kegiatan lomba ditingkat penggalan adalah Lombat Tingkat. Ini adalah salah satu kegiatan perkemahan lomba yang sangat dinantikan dan dapat disebut inilah kegiatan pramuka yang paling melelahkan yang pernah saya ikuti. Dimulai dari seleksi peserta di gugus depan masing-masing sampai dengan lombat tingkat V atau level nasional. Saya hanya memiliki kesempatan sampai di lomba tingkat IV, ditingkat kwartir daerah karena kalah bersaing dengan salah satu pangkalan dari kwartir cabang lain.

Masih terbayang hujan lebat menyambut peserta di hari pertama di Lt IV yang membuat peserta harus mendirikan tenda dibawah lebatnya kuyuran air hujan. Hampir seluruh pakaian basah dan ini adalah hari pertama kemah lomba. Perkemahan ditutup dengan jelajah kota, menempuh jarak puluhan kilometer dengan kaki yang telah diserang infeksi kutu air akibat pemakaian kaos kaki basah.

Tak ada satupun peserta yang mundur atau dilaporkan sakit selama perkemahan. Hanya sesekali berita kesurupan yang terdengar dari beberapa tenda putri. Hal yang dapat saya simpulkan adalah pikiran positif dan semangat diri menjadi imun booster ditengah cuaca yang tidak bersahabat. Perpaduan antara pikiran dan gerak tubuh yang membawa kami saat itu sampai ke garis akhir perlombaan, menobatkan pemenang dalam sebuah upacara yang dihadiri seluruh peserta.

Menjadi Pradana

Berpindah ke level berikutnya, saya mendapat kesembatan terpilih sebagai Pradana di Gugus Depan SMA, memimpin rekan-rekan penegak dalam kegiatan rutin maupun kegiatan lain seperti raimuna dan kemah lomba. Saya kembali mengingat proses pemilihan yang berlangsung demokratis, semua saling mendukung satu sama lain. Setelah satu orang terpilih, calon yang lain akan mengerahkan dukungannya 1000 %. Hal yang kemudian jarang diterapkan di level yang lebih tinggi bahkan oleh orang yang pernah merasakan suasana demokratis tersebut.

Latihan kepramukaan telah mengasah diri kita untuk memiliki jiwa yang besar. Siap bertarung untuk meraih kemenangan dibarengi kesiapan untuk mengakui kekalahan. Hal yang dewasa ini kemudian luntur dan hilang seiring ditanggalkannya seragam kepramukaan. Kita menyaksikan dalam berbagai episode musyawarah disemua level di negeri ini, dukungan hanya sebatas pada kepentingan, bukan pada kesadaran bahwa yang terpilih memiliki hak untuk didukung tanpa persyaratan. Sesuatu yang menyimpang dari kehidupan seorang pramuka.

Pramuka telah melatih kepatuhan dan menjadikan musyawarah sebagai pilar keberagaman. Sesuatu yang harusnya tegak dijalankan ketika berada ditengah masyarakat. Seorang pramuka harusnya memiliki tanggung jawab dan dapat dipercaya untuk menjalankan hasil musyawarah. Seorang pramuka harusnya memiliki kejujuran dalam ucapan dan perbuatannya agar dapat menuai kepercayaan. Seorang pramuka harusnya mengedepankan kesucian dalam pikiran dan perbuatan sehingga tidak menuntut sesuatu atas dasar kepentingan dirinya pribadi dan golongannya

Pramuka Bukan Tempat Senioritas

Seremoni sudah menjadi kegiatan yang umum dalam kepramukaan, baik itu untuk kenaikan pangkat maupun pelantikan dalam jabatan tertentu. Kegiatan ini sangat positif untuk mengantar seorang pramuka ke level yang lebih tinggi. Hal yang menjadi permasalahan adalah kegiatan-kegiatan yang mengiringi. Kegiatan yang sering dikenal dengan perpeloncoan, sebuah tradisi yang menyesatkan.

Seorang pramuka yang akan naik level, diminta untuk berendam dikubangan, berteriak sedemikian rupa. Push up dan berguling didepan pramuka yang memiliki level yang tinggi. Memanjat pohon untuk mendapatkan tanda kepangkatan, serta beragam kegiatan lain yang harusnya tidak menjadi bagian dari kepramukaan karena tidak ada senioritas dalam kepramukaan, hanya ada kakak yang bertugas mengayomi. Dikepramukaan hanya ada apit kanan dan kiri sebagai saksi seseorang telah memiliki kemampuan tertentu dalam kepramukaan.

Pramuka tempat untuk mengembangkan diri, mengasah diri menjadi pribadi yang lebih baik. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya. Bukan tempat menunjukkan kekuasaan

Tri Satya Yang Terlupakan

Jika dilihat dari pola pendidikan masa lalu, maka orang-orang yang saat ini berada dalam posisi pengambil kebijakan adalah orang-orang yang pernah mengenyam latihan kepramukaan. Mereka adalah orang-orang yang pernah bersumpah demi kehormatannya akan menjalankan kewajiban terhadap Tuhan dan Negara Kesatuaan Republik Indonesia, menolong sesama hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat, Serta menepati Dasa Dharma.

Sumpah yang kemudian terlupakan, kewajiban terhadap Tuhan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak lagi dijalankan dan bergeser manjadi kewajiban terdapat kepentingan pribadi dan golongan. Tolong menolong hilang dalam masyarakat berganti dengan kekuasaan materi.

*****

Dimomen bahagia memperingati kembali ulang tahun pramuka, mari kembali mengingat Trisatya dan Dasa Dharma sebagai pedoman. Mari kembali merenung bahwa pramuka bukan hanya tentang tongkat dan tali tapi merupakan panduan untuk berbakti pada negeri tercinta atas dasar petunjuk Tuhan Yang Maha Esa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s